Tepat pukul 17.40 WIB, senja itu hari Jum’at tanggal 01 Maret 1991, guncangan terasa pada gerbong KA dan beberapa detik KA (Kereta Api )pun berlalu. Semua keluarga yang mengantar, semuanya turun dari gerbong. Hanya lambaian tangan dan kelihatan tetesan air mata keharuan yang dapat mengiringi kepergian kami, hujanpun semakin deras mengiringi kami meninggalkan kota Bandung.

Stasion Bandung Kota
Persiapan perjalanan meninggalkan kampoeng halaman menuju negeri harapan Nusa Tenggara Barat begitu mengharukan bagi keluarga yang mengantarku. Suasana stasion Kereta Api senja itu begitu ramainya dipadati oleh pengunjung, yang diantaranya adalah mereka keluarga yang mengantar kepergian kami, ditambah dengan turunnya hujan senja itu menambah suasana semakin sendu wajah-wajah para pengantar. Begitu pula suasana semakin semrawut karena pengurusan tiket dan tempat duduk yang kurang terkoordinasi ( tidak terbentuk panitia sedangkan yang mengurus masalah tiket belum datang ).
Kereta senja “Mutiara Selatan” pun berlalu sudah.
Beberapa stasion KA yang kami lewati pun tak luput dari catatan perjalanan ini, karena ini perjalanan kami dengan KA menuju kota Surabaya. Nama stasion yang kami lewati antara lain :
Tanggal, 01 Maret 1991
1. Bandung 18.00
2. Tasikmalaya 20.30
3. Banjar 21.30
4. Kroya 23.40
Tanggal 02 Maret 1991
5. Kutoarjo, Kebumen, Karanganyar, Gombong 01.20 – 03.00
6. Jogjakarta 03.00
7. Klaten 03.40
8. Delanggu 03.55
9. Solo 04.25
10. Madiun 05.45
11. Nganjuk 06.40
12. Kertosono 07.00
13. Jombang 07.15
14. Mojokerto 08.00
15. Wonokromo 08.40
16. Gubeng ( finish ) 09.00
Catatan : Harga tiket Bandung-Surabaya Rp. 15.000,- + Ongkos pesan Rp. 1.000,- = Rp. 16.000,-
Nomor tempat duduk 13C, berdampingan dengan Hedi Hatadi (lampiran tiket masih ada).
Tepat pukul 12.00 WIB. Kendaraan yang akan membawa kami telah tiba, beberapa menit kemudian kami meneruskan perjalanan dengan menggunakan bis “Damai Indah” dengan trayek Surabaya-Mataram, harga tiket Rp. 21.000,-.

Stasion Gubang Surabaya
Perjalanan dengan Kereta Api yang melelahkan namun menyenangkan dan punya kesan tersendiri berakhir di stasion Gubeng-Surabaya. Kami beristirahat di stasion Gubeng, sambil menunggu perjalanan berikutnya.
Bis melaju terus menelusuri kota Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur hingga bagian paling timur Banyuwangi. Keadaan kota Surabaya yang cukup panas tidak mengendurkan semangat kami untuk terus melaju menuju negeri harapan.
Pukul 17.30 WIB. Bis tiba di pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
Banyuwangi, kami beristirahat sejenak sambil menunggu kapal yang akan menyebrangkan kami mengangkatkan kaki dari ujung timur pulau Jawa menuju pulau Dewata.
Pukul 18.10 WIB, kami semua sudah berada di dalam bis dan kemudian bis pun memasuki kapal penyebrangan. Suasana senja pun perlahan merayapi malam, langit yang merahpun perlahan menjadi gelap. Sebagian dari kami tetap di dalam bis dan sebagian lagi keluar dari bis benikmati hembusan angin laut yang kencang, sambil memandang langit yang hitam dan membayangkan sanak keluarga yang ditinggalkan. Senja di Selat Bali memang mempunyai kesan yang mendalam, + 25 jam sudah kutinggalkan kampong halaman, keluarga dan………………..semuanya teringat. Disela-sela kegelapan malam aku berdo’a agar selamat dalam perjalanan sampai di tempat tujuan dan selamat semua yang ditinggalkan. Amien.
Menyebrangi Selat Bali memang tidak begitu lama, terasa singkat sekali. Pukul 18.50 WIB kapal penyebrangan merapat di Pelabuhan Penyebrangan Gilimanuk Pulau Bali. Aku seakan tak percaya bahwa saat itu telah berada di Pulau Bali pulau Dewata, tapi aku yakin aku tidak sedang bermimpi.
Setelah bis mendarat tidak ada acara istirahat, bis terus melaju melewati pulau Bali, saying Bali yang menjadi kebanggaan nasional itu tidak dapat kami saksikan karena hanya sekedar melintasi dan keadaan gelap suasana malam. Rasa lelah kini mulai merayapi seluruh tubuh karena sampai saat itu aku belum tidur untuk istirahat.
Bis berhenti untuk istirahat dan makan malam di Restaurant “PAPIN” daerah Negara-Denpasar yaitu pukul 19.45WIB., hanya bangunan Pura yang dapat kami saksikan dalam perjalanan melintasi Pulau Bali. Pukul 20.30 WIB atau 21.30 WITA ( Waktu Indonesia Tengah ) kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan penyebrangan “PadangBai” Bali.
Pukul 00.45 WITA tiba di Pelabuhan PadangBai. Istirahat disini cukup lama karena kapal pennyebrangan yang pertama berangkat pukul 09.00WITA. Kami semua beristirahat sambil menikmati keindahan pantai yang sekaligus sebagai pelabuhan penyebrangan Bali-Lombok. Semakin pagi suasana pelabuhan semakin ramai. Kami sempat untuk makan, sembahyang dan istirahat. Keasingan suasana semakin terasa, baik keadaan alam, masyarakat, bahasa dan waktu, mulai masuk pulau Bali sudah memasuki waktu Indonesia Tengah.
Ketika sang Surya mulai menampakkan wajahnya di ufuk Timur, kami semua telah bersiap-siap dalam arti sudah selesai shalat, mandi dan saparan pagi, tinggal menunggu kapal penyebrangan yang akan menyebrangkan kami ke pulau harapan Pulau Lombok.
Diantara sekian banyak orang yang berlalu lalang di pelabuhan, ternyata terselip seorang teman. Seperti tak percaya pada pandangan mata. Hedi bilang “ Jie itu kayak si Ahmad ( Ahmad Riyadi )”..Saya panggil dia ternyata memang betul. Dia berangkat sendirian tidak ikut rombongan kami, karena asalnya dari Demak Jawa Tengah, tujuannya sama Lombok, hanya menggunakan bis yang berbeda. Akhirnya kami ngobrol sana-sini dan menyebrangi selat Lombok bersamaan dalam satu kapal

Pelabuhan PadangBai Bali
Pukul 09.00 Wita kapal mulai menarik jangkarnya, melaju mengarungi lautan biru Selat Lombok menuju Pelabuhan Lembar ( Lombok ).
Sengaja kami sebagian naik pada tempat paling tinggi di kapal, sehingga dapat dengan leluasa memandag lautan lepas. Di kapal ini, selain tempat kendaraan di bagian bawah, juga mengangkut penumpang dan merupakan kapal ferry yang cukup besar, ini betul-betul pengalaman baruku.
Selat Lombok ditempuh + 4 jam dengan tenang tanpa ada gangguan yang berarti. Disini saya bisa beristirahat tidur walau sebentar, juga diantara sesama penumpang kami ngobrol dan menanyakan segala hal mengenai NTB dan Pulao Lombok khususnya. Walau kelihatan wajah mereka keras-keras namun mereka ramah-ramah dan dengan senang ahti memberikan segala informasi kepada kami. Walau ombak tak terlalu besar, namun kapal kami tergoyang juga ke kiri dan ke kanan sehingga tak sedikit yang mabok laut karenanya.
Setelah tiga jam lebih lamanya, mulai terlihat pulau-pulau kecil (gili ) yang sangat indah di sekitar atau hamper mendekati pelabuhan Lembar, tak lama kemudian kapalpun berlabuh di pelabuhan penyebrangan Lembar ( Lombok Barat / NTB ).
Pukul 13.00 Wita ( hari Minggu ) kami turun dari kapal penyebrangan dan menginjakkan kaki di Pulau Lombok, rasa penasaran dan penuh pertanyaan mungkin menyelimuti perasaan masing-masing tentang seperti apa pulau Lombok/NTB itu ? Kami kembali naik bis untuk meneruskan perjalanan menuju Kota Mataram ibukota propinsi NTB.

Pelabuhan Lembar-Lombok
Keceriaan tampak pada wajah-wajah diantara kami, dalam hati masing-masing mungkin berkata “ini Lombok” ; “ini NTB” ; “mama, papa….aku sudah sampe NTB” dan sebagainya, dan sebagainya
( bagi teman-teman yang seperjalanan mungkin bisa menterjemahkan perasaan masing-masing jika membaca ini ). Dan semuanya seolah ingin cepat menyaksikan keadaan NTB yang sebenarnya. Mimpikah aku……..mimpikan kita ? TIDAK !
Kesan pertama yang dapat kami rasakan adalah udara panas ( karena pas tengah hari ), dan jalan yang lurus beraspal hotmix lengang tanpa kemacetan. SMA yang pertama terlewati oleh bis adalah SMAN Gerung – Lombok Barat, sekolahnya di pinggir jalan tapi sekitarnya masih sawah, diantara kami ada yang ditempatkan disini.
Hanya beberapa menit saja bis sudah memasuki wilayah kecamatan Cakranegara, daerah dimana SMA tempat aku ditempatkan berada. Namun dari perbatasan hingga pusat kota Cakranegara belum terlihat Gedung SMAN Cakranegara. Cakranegara merupakan pusat pertokoan dan perbelanjaannya Mataram. Pusat keramaian lainnya adalah Kecamatan Ampenan dan sebagai terminal sentral dan Pasar Induk untuk Pulau Lombok adalah Sweta Kecamatan Cakranegara. Kotanya begitu indah, jalan-jalan tertata rapi, tidak ada kemacetan, jalan datar dan lurus dan beraspal hotmix .
Untuk sementara kami menghubungi Kantor Kecamatan Cakranegara menemui Pak Camat, kebetulan Pool Bis yang kami pakai tidak jauh dari kantor kecamatan, kami beristirahat disini sebelum pasti kami akan menginap dimana. Pak CAmat mengizinkan Aula Kantor Kecamatan digunakan oleh kami untuk melepaskan penat dan letih. Sementara teman lain ada yang menghubungi kakanwil Depdikbud Prop. NTB. di Mataram untuk dapat menampung kami semua.
Pukul 15.30 Wita diputuskan untuk menuju Wisma Seruni II atas izin Kasub Dikmenum, sebagai tempat penampungan sementara. Fasilitasnya cukup baik serta pelayanan petugasnya memuaskan dan tidak dipungut bayaran (gratis). Tempat ini ex gedung SPG yang sekarang digunakan untuk BPG (Balai Penataran Guru) Prop. NTB. Kami menempati kamar masing-masing yang sudah disediakan, beres-beres, mandi, istirahat…………….nyaman….damai…….
(ditulis oleh : Panji Priatna, S.Pd. Sumber : Buku harian Panji Priatna, S.Pd. )
Aziz Pratama Nugraha
Dwiky Rizqi Sudrajat
Angga Andrariesta Majied
total ongkos selama berangkat sampai pulang lagi berapa???trs kemana aja pas di lomboknya???trmksh
udah nyampe sana ya, terus tugas di sana selama 16 tahun…..paling pulang setahun atau dua tahun sekali, atau ada juga pernah setahun dua kali
Makasih atas refresh cerita di atas, kali ini aku senyum2 sendiri membacanya
bagus pak…
cerita bapak hampir sama dengan apa yg sdh saya alami 16 tahun lalu tahun 1994 ketika pertama pergi ke Jawa.
tetapi arahnya terbalik pak…
saya orang Lombok (dari Timur) pergi kuliah merantau ke tanah Jawa (Malang Jawa Timur).